Selasa, 30 Desember 2008

Ada Tanda Di Wajah Kita

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat utama Nabi saw. yang sekaligus menantu beliau, pernah berkata, “Tidak seorang pun bisa menyembunyikan suatu rahasia karena Allah akan menampakkan semua itu melalui roman muka dan ucapannya.”
Tak seorang pun dari kita yang dapat menyembunyikan rahasia dari wajah dan diri kita, kecuali pada ungkapan-ungkapan yang diatur dan kalimat-kalimat yang tersusun rapi. Tetapi secara keseluruhan, kita tak sanggup menyembunyikan rahasia. Susunan kata yang indah dan kalimat yang mempesona, tak sanggup menyimpan rahasia. Hanya saja, kepekaan kita bertingkat-tingkat dalam menangkap dan memahami. Semakin bersih hati kita dalam membangkitkan kewaspadaan diri, maka akan semakin peka. Orang-orang yang banyak bersujud dengan hati ikhlas, akan lebih cepat membedakan siapa yang tulus dan siapa yang ingkar. Sebab ruh itu seperti pasukan. Ia akan cepat mengenali yang serupa dengannya.
Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an, kata Ibnu Taymiyyah Al-Harrani dalam Al-Jamal: Fadhluh, Haqiiqatuh, Aqsaamuh, bahwa hal itu (rahasia) kadangkala nampak pada wajah: “Dan, seandainya Kami kehendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka dengan tanda-tandanya.” karena semua itu ada di bawah kehendak (masyi’ah)-Nya. Kemudian Dia berfirman, “Dan, niscaya kamu akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (QS. Muhammad, 47: 30). Semua ini merupakan kepastian. Sesuatu yang disembunyikan oleh jiwa akan lebih jelas melalui kata-katanya daripada jiwanya. Kesaksian wajah sangatlah tipis, sedangkan dari ucapannya sangatlah jelas.
Orang-orang yang menyembunyikan dalam dirinya kedustaan yang bercampur ketakutan akan tersingkapnya rahasia misalnya, akan tercekat tenggorokannya sehingga sulit menelan. Ini membuatnya merasa tidak nyaman, sehingga justru berusaha untuk terus-menerus menelan. Semakin besar kecemasannya, semakin tercekat tenggorokannya. Semakin ia berusaha untuk menyembunyikan rahasia, menutup rapat-rapat keburukannya, seraya menahan rasa takut akan terbongkarnya keburukan, semakin tak sanggup untuk menelan. Dan ini menyebabkan ia semakin merasa tidak nyaman.
Kening kita juga memberi tanda. Kalau ada kebohongan besar yang kita ucapkan, di kening kita membentuk kerutan yang tidak bisa kita kendalikan. Kerutan itu muncul di bawah kehendak (masyi’ah)-Nya. Tak ada yang sanggup mengelak. Bahkan seorang Bill Clinton sekalipun, tersingkap dustanya ketika ia mencoba mengingkari perbuatan maksiat yang pernah ia lakukan. Penelitian tentang wajah manusia dan seribu rahasia yang ada di dalamnya, memberi kita pelajaran yang besar bahwa ada tanda di wajah kita.
Ada kekuatan dalam diri kita yang membuat wajah tampak bercahaya, meski kulitnya hitam legam. Begitu pun sebaliknya, wajah yang cantik dengan kulit putih bersih bisa kehilangan pesonanya sama sekali karena keruhnya jiwa, rusuhnya hati dan buruknya iktikad. Tak ada yang dapat diharap dari senyum yang tersungging apabila tak disertai oleh jiwa yang hidup, kecuali jika kita sendiri telah demikian keruh.
Pada awalnya, kita bisa memoles senyuman agar tampak lebih mengesankan. Tetapi seiring perjalanan waktu, akan datang tanda di wajah kita apakah pada senyum-senyum kita ada ketulusan atau tidak. Anda akan tahu bahagia tidaknya seseorang di hari tua dari wajah mereka. Atau kalau Anda tidak tahu, wajah itu yang akan mengabarkannya kepada Anda.
Wallahu a’lam bishawab. Hanya Allah saja yang menggenggam semua rahasia. Pengetahuan kita amat terbatas. Selebihnya ada pelajaran yang patut kita renungkan. Jika di dunia ini saja kita sanggup menyimpan rahasia, maka apakah yang sanggup kita andalkan kelak ketika bumi telah dilipat dan langit telah digulung?
Semoga Allah menolong kita semua dari kesesatan kita sendiri.

Tidak ada komentar: