Tampilkan postingan dengan label Belajar Berislam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Berislam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2009

Bangkitkan Kekuatan Mereka

Kita terlalu manja. Telah Allah limpahkan kekayaan yang sangat besar atas bumi tempat kita berpijak, tetapi kita asyik dengan angan-angan kita. Kita membiarkan tangan kita diam tak bergerak, di saat ribuan manusia berteriak-teriak mencari tempat yang memberi kesegaran. Kita tidak mengerahkan kekuatan dan membangkitkan kemauan untuk memeras keringat menggenggam kehidupan. Atas bumi tempat kita tinggal yang begitu indah, kita tidak mensyukurinya dengan kerja yang sungguh-sungguh. Atas tanah kita yang aman, kita tidak mensyukurinya dengan menajamkan otak kita, menguatkan pikir kita, menghidupkan jiwa dan melembutkan hati kita, sehingga kita akhirnya terpuruk di kampung sendiri.


Harus kita gerakkan jiwa mereka; anak-anak kita dan para orangtuanya. Harus kita bangkitkan kehendak mereka untuk meraih hidup yang baik dan kematian yang mulia. Kita tidak punya waktu untuk meratapi. Kita tak bisa mengubah masa lalu, sementara masa depan tidak mungkin kita ciptakan kalau kita menyibukkan diri berandai-andai dengan apa yang terjadi. Kita tidak memiliki masa depan kalau hari ini kita tidak bersedia memeras kita keringat untuk menggenggam dunia di tangan kita dan memasukkan akhirat di hati kita!

Ingatlah pada sabda Nabi saw., “Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan “Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini dan begini.” Katakanlah, “Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki, maka itu terjadi.” Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim).

Maka, tak ada tempat bagi kita untuk berandai-andai. Yang harus kita lakukan adalah belajar dari Umar bin Khaththab ra. untuk mampu memandang setiap kejadian dan bencana, sejauh bukan bencana agama, sebagai rahmat yang membawa kebaikan apabila kita mengambil pe¬lajaran darinya. Ketika suatu hari Umar bin Khaththab ditimpa musibah, sahabat Nabi saw. yang terkenal ketegasannya ini berkata, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ‘alaa kulli haal. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam dalam segala keadaan.”

Bencana yang terjadi di tempat kita, jauh lebih ringan daripada yang pernah dialami oleh Jepang, Iran, Irak atau Lebanon yang hari ini anak-anaknya sedang disiksa oleh Israel. Tetapi Jepang bangkit menjadi negara yang sangat kuat, justru belajar dari bencana yang dialaminya. Sama seperti negara Singapore bisa sangat makmur, padahal tanah yang mereka miliki tidak memberi harapan untuk bercocok tanam. Andaikata seluruh lapangan sepak bola yang ada di sana diubah menjadi sawah –ketika itu—niscaya tidak mencukupi kebutuhan pangan seluruh penduduk Singapore. Tetapi kita melihat, mereka mencapai kemajuan besar. Mereka bergerak dengan semangat yang ada di dalam jiwa mereka.
Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat. Kitalah yang memiliki perkebunan coklat sangat besar di dunia. Tetapi Swiss adalah negara pembuat coklat terbaik di dunia. Padahal hanya 11% wilayah Swiss yang bisa ditanami. Swiss juga mengelola susu dengan jangkauan pema¬saran seluruh dunia dan dikenal sebagai tempat berdirinya bank-bank paling aman di dunia. Padahal Swiss tidak memiliki kekuatan militer yang sangat kuat.

Ada banyak contoh lain bagaimana negeri-negeri lain di dunia meraih kejayaan, sementara kondisi alamnya sangat tidak memadai. Jepang misalnya, sebagian besar wilayahnya pegu¬nungan. Delapan puluh persen wilayahnya adalah gunung, sehingga secara alamiah tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan peternakan. Tetapi pertanian Jepang sangat maju.

Betapa pun demikian, negeri-negeri itu tidak dapat memberikan jaminan kebahagiaan bagi penduduknya. Mereka belajar dari bencana, tetapi tetap tidak sanggup melawan bencana. Negeri mana pun, betapa pun majunya, dapat terkena bencana yang sama besarnya. Hanya saja, mereka dapat meminimalkan bencana yang bersumber pada perilaku dan kecerobohan manusia.

Atas bencana-bencana yang terjadi, kita perlu menilik lebih jauh sebabnya. Di antara bencana-bencana yang ada, sebagian merupakan akibat kesalahan kita; sebagiannya lagi merupakan ujian; dan sebagian lainnya merupakan azab. Inilah perkara pertama yang perlu dipahami oleh anak-anak agar mereka tidak salah memahami Allah.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka Karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”
(QS. Al-A’raaf, 7: 96-100).

Demikianlah. Ada yang perlu kita renungkan. Dan yang pasti, ada yang perlu kita persiapkan agar anak-anak kita kelak sanggup menegakkan kepala merebut masa depan. Insya-Allah.
Selengkapnya...

Jumat, 11 September 2009

Selamat Datang Bencana

Bencana yang baru saja datang mengguncang sehingga membuat kita lari tunggang-langgang, mungkin bukan yang terakhir. Tangis yang menyayat-nyayat di setiap ujung-ujung jalan karena perginya orang tersayang tanpa pernah bisa diharapkan kembali lagi, mungkin masih akan terulang lagi. Bisa lebih kecil, bisa lebih besar. Kalau kesempatan yang Allah berikan kepada kita saat ini tidak kita pergunakan, boleh jadi kita akan melihat datangnya bencana-bencana berikutnya yang lebih menakutkan.

Ada 351 ayat tentang adzab dalam Al-Qur’an dan puluhan lagi tentang bencana. Semua mewartakan kepada kita tentang apa yang harus kita benahi dalam diri kita. Sebab semua yang ada di langit dan di bumi; dari gunung yang Allah perintahkan menjadi pasak bagi bumi ini hingga laut, semua bertasbih memuji Allah. Maka apabila kemaksiatan dibiarkan merajalela, dan orang-orang yang baik tidak menganggap buruk orang-orang yang melakukan kekejian, para ulamanya diperkaya oleh penguasa, sungguh inilah saat ketika bencana akan datang susul menyusul. Awalnya ia adalah peringatan, meski tetap ada korban yang harus berjatuhan. Tetapi akan datang bencana yang lebih mengerikan dan lebih menghancurkan, apabila kita tidak segera mengambil pelajaran.
Sebagian dari kita Allah beri kesempatan untuk selamat, bukan karena kita lebih baik daripada mereka yang hari ini telah Allah panggil pulang. Tetapi karena Allah masih memberi kita kesempatan untuk berbenah. Allah beri kita kesempatan untuk memperbaiki al-wala’ wa al-bara’ kita. Sungguh, apabila sudah tidak ada lagi pada diri kita kehormatan sebagai seorang mukmin, sehingga tidak merah muka kita karena marah ketika agama ini direndahkan dan maksiat diagungkan, maka do’a orang-orang yang shaleh pun tak lagi dikabulkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadis.
Dan hari ini, majalah yang telah menginjak-injak agama ini telah diizinkan kembali untuk terbit dan mengagungkan kemaksiatan. Majalah Playboy telah datang menjumpai para suami untuk melihat aurat perempuan lain. Maka apakah engkau masih berharap bumi ini damai tanpa bencana, sedangkan mukamu tidak merah karena marah oleh kemaksiatan? Maka apakah engkau akan menyalahkan tuhanmu ketika bumi mengering, panasnya membakar dan dinginnya mematikan? Padahal engkau biarkan orang-orang fajir melecehkan kebenaran dan kebaikan.
Ingatlah sejenak ketika Allah berfirman:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” (QS. Al-Mulk, 67: 16-18).
Sesungguhnya, bencana itu tidak di utara tidak di selatan, tetapi di tempat yang telah Allah takdirkan atau bagi manusia yang telah Allah tetapkan keadaan itu baginya. Maka jika engkau berlari ke selatan karena menghindari bahaya dari utara, boleh jadi kematian itu menyambutmu di tempat engkau mencari perlindungan.
Mari kita simak kembali firman Allah di bagian lain Al-Qur’an:
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.” (QS. Luqman, 31: 31-32).
Jika ombak setinggi gunung yang datang menerjang, maka hanya Allah tempat berlindung paling sempurna. Jika engkau mencari keselamatan dengan berlari ke atas bukit, bukankah putra Nabi Nuh as. ditenggelamkan oleh Allah pada saat dia mencari perlindungan di puncak gunung?
Selengkapnya...

Kamis, 08 Januari 2009

Solilokui Pagi Hari

Astaghfirullahal ‘adzim.
Telah terjaga tubuh ini, ya Allah di pagi yang matahari bersinar cerah mengikuti perintah-Mu. Telah terbangun badan ini dari pembaringan membuai mimpi. Telah terbelalak pula mata ini menyaksikan irama alam yang Engkau ciptakan. Tetapi jiwa ini, ya Allah, rasanya masih lelap dengan tidurnya. Di luar sana, di negeri tempat cucu nabi-Mu Engkau wafatkan, ratusan saudara kami meneteskan darah dari matanya. Tapi tak sedikit pun dada kami terguncang.

Telah terbentang lebar mata ini menikmati pagi yang burung-burung Engkau jadikan berkicau merdu, indah terdengar di telinga. Di pagi ini, ya Allah, kami duduk menikmati berita tentang saudara-saudara kami yang dicungkil matanya oleh tentara Amerika. Bagai sebuah pesta, kami asyik memandangi foto-foto saudara kami yang ditelanjangi tubuhnya, disengat listrik kemaluannya, dikuliti tubuhnya seperti jagal yang menguliti seekor kambing yang hendak diperdagangkan dagingnya, sembari pada saat yang sama kami belajar demokrasi ke negeri para penyiksa itu. Kepada kaum barbar itu, kami belajar hak asasi dan kemanusiaan, sambil mengutuk setiap anak kecil Palestina yang melempari tentara Israel dengan batu kecil, semata demi mengharapkan berhentinya sebuah tank besar yang kemarin telah membunuh bapaknya.
Alangkah segar pagi ini, ya Allah. Engkau ciptakan kesempurnaan alam yang indah. Sinar matahari menyemburat di cela-cela dedaunan, sebagaimana darah perempuan-perempuan muslimah di Irak menyemburat dari daun telinga mereka. Hari ini, mereka tak lagi mengenal kata sakit karena gigi yang patah, sebab yang sekarang mereka rasakan sebagai derita adalah tusukan bayonet di tubuh oleh tentara yang pergi ke sana untuk menciptakaan negeri yang damai. Para wanita itu harus kehilangan giginya dan juga biji matanya hanya karena mereka tak mau berhenti menangisi suaminya yang mati. Di sini, kami belajar dari negeri yang barbar itu, bahwa setiap bentuk kemarahan seorang Muslim yang tidak rela ditindas adalah terorisme, meskipun mereka hanya melempar sebiji kerikil ke pesawat tempur yang sedang diparkir.
Saudara-saudara kami disiksa, ya Allah, oleh tentara-tentara Amerika yang baik hati. Hati kami marah, ya Allah, dan membicarakannya bersama keluarga sambil menik¬mati sedapnya kopi instant panas buatan pendukung Yahudi. Kami kutuk mereka, ya Allah, sambil kami belanjakan uang kami kepada sahabat-sahabat mereka dengan bangga. Kami lakukan itu dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya demi merebut sepotong kenikmatan yang memanjakan lidah, sementara anak-anak yang baru lahir di Palestina tak lagi bisa mengeluarkan airmata.
Ya Allah, sekali waktu kami masih punya rasa malu. Tetapi untuk bertindak yang lebih jauh, tak ada pemimpin yang dapat kami tiru. Orang-orang pintar di sekeliling kami, masih sibuk bertengkar berebut kekuasaan. Sedangkan orang-orang yang menyandang banyak gelar besar, hanya pandai berkelakar daripada memikirkan masalah dengan benar. Ataukah kami ini ya Allah yang keliru menilai pemimpin-pemimpin kami? Kami mengira mereka pemimpin sejati, padahal sesungguhnya adalah pemimpi yang sibuk memperjuangkan kursi. Adapun nasib kami ini ya Allah, atau lebih-lebih saudara kami yang hampir mati itu ya Allah, tergantung apa kata Tuan Besar yang menentukan hitam-putihnya hak asasi dan kemanusiaan.
Ya Allah…, ataukah di dalam tubuh kami yang sehat dan mata kami yang dapat melihat dengan amat jelas, sesungguhnya hati kami buta, tuli dan bisu sehingga kami tak dapat mendengar suara-suara saudara kami yang nyata-nyata sedang disiksa oleh Polisi Dunia? Ataukah ‘ízzah –harga diri—kami yang telah runtuh sehingga kami tak tahu kebenaran yang harus kami suarakan hanya karena penderitaan itu bukan kami sendiri yang mengalami? Ataukah iman kami yang sedang sakit, sehingga tidak merasa takut dengan peringatan nabi-Mu?
Sungguh, nabi-Mu pernah mengingatkan kami, ya Allah. Nabi-Mu pernah bersabda sebagaimana kuketahui dari Adz-Dzahaby dalam Al-Kabaairnya, “Allah melaknat orang yang membiarkan seorang Muslim dalam kesulitannya dan tidak membantunya.”
Hari ini, mereka bukan hanya dalam kesulitan. Mereka dalam penderitaan dan penyiksaan. Sementara kami di sini asyik membantu musuh-musuh mereka dengan membelanjakan uang kami untuk para penyiksa itu.
Ampunilah kami, ya Allah… meski kami masih sering lupa.
Selengkapnya...

Tidak Ada Tuhan Kecuali Allah

Seperti seruan adzan, awalnya mengagungkan Allah dan mengakui kebesarannya. Permulaannya kesaksian bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sesudah itu seruan untuk menegakkan shalat dan merebut kemenangan. Sedangkan ujungnya adalah peneguhan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Seperti itu juga seharusnya hidup kita….


Awalnya kita bergerak untuk mengagungkan Allah. Setiap jengkal bumi ini, di setiap sudut kampung-kampung dan negeri, harus kita penuhi dengan takbir. Takbir dengan lisan kita dengan menyebut Allahu akbar. Hanya Allah Yang Maha Besar dan Maha Lebih Besar. Tak ada kebesaran yang melebihi kebesaran-Nya. Tak ada tempat bagi kita untuk menganggap kecil orang lain, karena kita melihat pada pencipta-Nya. Sebaliknya, tak ada yang layak kita besar-besarkan atas orang-orang yang membesarkan dirinya di hadapan manusia, karena sebesar apa pun mereka, sesungguhnya Allah Maha Besar.
Berangkat dari kesadaran bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, kita menyatakan kesaksian (syahadat) dengan lisan dan hati kita. Kemudian kita mengarahkan diri kita, pikiran kita, hati kita dan tindakan kita agar apa pun yang kita lakukan adalah dalam rangka untuk menyembah Allah. Bukankah kita diciptakan untuk menyembah-Nya?
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51: 56-58).
Karenanya, kita perlu berupaya agar seluruh aktivitas dan hidup kita memmpunyai nilai ‘ibadah. Tidaklah kita shalat kecuali untuk Allah. Tidaklah kita mati kecuali untuk Allah. Dan kesadaran ini harus kita hidupkan dalam diri kita. Jika tidak, shalat yang kita lakukan pun bisa terlepas dari kebaikan. Betapa banyak orang yang tampaknya sedang mengagungkan Allah dan menyungkurkan keningnya ke tanah, tetapi sesungguhnya ia sedang menyibukkan diri dengan dunia. Ia basahi lisannya dengan takbir, tetapi ia penuhi hatinya dengan dunia.
Astaghfirullahal ‘azhiim. Atau jangan-jangan, kitalah yang lebih banyak lupa daripada ingat, yang lebih banyak menyibukkan diri dengan dunia daripada menyempatkan berpikir akhirat.
Ah, agaknya kita perlu mengingat kembali firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-An’aam ayat 162-163:
“Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
Tentu saja ayat ini bukan untuk memalingkan kita dari dunia dan tidak memedulikannya. Tetapi agar seluruh yang kita lakukan, termasuk kerja keras kita dalam mencari nafkah, semata-semata untuk Allah. Kita menggenapi apa yang diperintahkan, menunaikan apa yang diserukan-Nya dan mempergunakan apa yang ada pada kita untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
Boleh jadi hari-hari kita penuh dengan kesibukan, sehingga seakan-akan seluruh hidup kita untuk dunia. Tetapi jika ia jadikan itu semua untuk memuji dan menyembah-Nya, mematuhi aturan-Nya dan tidak menentang perintah-Nya, maka ia terhitung sedang melakukan ketaatan.
Saya teringat dengan sebuah hadis. Rasulullah saww. bersabda, “Allah kagum kepada seseorang yang menggembala kambingnya di atas gunung. Ia azan dan melaksanakan shalat. Allah berfirman, “Lihatlah oleh kalian (wahai para malaikat) hamba-Ku itu! Ia azan dan shalat. Ia takut kepada-Ku. Aku mengampuni dosanya dan aku akan memasukkannya ke dalam surga.”” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’ie & Ahmad).
Hari ini, ketika iman kita terasa amat lemah, semoga kita dapat menggerakkan diri kita untuk menuju ketaatan hanya kepada-Nya. Semoga ujung hidup kita adalah peneguhan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.
Ya, tidak ada tuhan kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.
Selengkapnya...

Rabu, 31 Desember 2008

Surat di Akhir Tahun

Tak berapa lama lagi, tahun ini akan berakhir. Berganti dengan tahun berikutnya. Tak ada sesuatu yang benar-benar berarti untuk berubah, tetapi betapa banyak yang menghabiskan waktu dengan sia-sia sambil mentertawakan Yang Maha Kuasa. Mereka menyibukkan diri menunggu berubahnya waktu, padahal waktu akan berubah dengan sendirinya tanpa harus ditunggui. Mereka banyak menghabiskan uang, tenaga dan usia. Sementara terhadap tuhannya, hampir-hampir mereka lupa.

Alangkah zalim kita pada diri sendiri. Seakan kita mampu memperpanjang usia kita seukuran kehendak kita. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla yang lebih berhak mengakhiri. Dialah Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu, cukuplah berkata “Kun! Jadilah!”, maka jadilah apa yang dikehendaki tanpa ada yang bisa menghalangi.
Atas diri kita yang pongah dan menyombongkan kekayaan, Allah Maha Kuasa untuk mencabutnya setiap saat. Atau menghapuskan kenikmatan darinya, sehingga tak berguna lagi, meski ada dalam genggaman kita. Dan tidakkah engkau lihat kesudahan orang-orang sebelum kamu?
Sungguh telah berlalu umat-umat sebelum kita, sebagaimana berlalunya waktu. Telah berlalu kaum Tsamud yang Allah musnahkan mereka dengan air yang menenggelamkan. Telah berlalu pula kaum Aad. Mereka terkubur bersama seluruh kebesaran dan kekayaannya, dengan cara yang begitu cepat dan tak terduga.
Maka, apakah engkau akan mengundang kemurkaan-Nya malam ini dengan tiupan terompet yang memekakkan telinga? Padahal ada tangis-tangis bayi yang kelaparan, dan ada kesengsaraan saudara-saudaramu yang ditimpa bencana! Apakah engkau mengingini suatu masa ketika tiupan terompet berubah menjadi jeritan panjang yang tak terdengar, kecuali oleh ombak-ombak yang menjalankan perintah-Nya dengan penuh ketaatan.
Sungguh, Allah Maha Kuasa untuk membalikkan gunung menjadi serpihan batu-batu pijar yang panas, dan meluapkan air laut sehingga menenggelamkan apa saja yang harus ditenggelamkan.
Maka, apakah engkau masih akan menyelenggarakan pesta-pesta untuk bermaksiat kepada-Nya secara sengaja? Padahal setiap saat rasanya kita lebih banyak bermaksiat daripada berbuat taat, meski kita tidak mengingininya.
Dan apakah engkau masih akan meragukan kekuasaan-Nya, sehingga Allah ‘Azza wa Jalla tunjukkan kedahsyatan yang lebih mengerikan di hadapanmu? Ingatlah kepada seorang manusia yang atas kesanggupannya membuat kapal yang kokoh, lalu mengira ia dapat mengalahkan Tuhannya. Ia pongah terhadap kekuatannya yang tak seberapa, sehingga keluarlah dari mulutnya kata-kata, “Bahkan Tuhan pun tak akan sanggup menenggelamkannya.” Tetapi kita semua telah belajar dari sejarah bagaimana kapal yang disebut Titanic itu, terbelah menjadi dua oleh air tanpa bisa ditolong lagi.
Tak ada waktu bagi kita untuk berhura-hura malam ini, ketika kita tahu ada ribuan anak yang tiba-tiba menjadi yatim di seberang sana. Tak ada waktu bagi kita untuk menghabiskan umur dan kekayaan demi merayakan apa yang seharusnya kita renungi sambil menangis, sementara kita tahu ribuan jiwa membutuhkan uluran tangan dan ketulusan kasih-sayang.
Tak ada waktu bagi kita untuk meniupkan terompet kegembiraan, sementara kita tahu ribuan saudara kita sedang dicekam oleh kesedihan. Mereka tak memiliki harapan. Mereka tak memiliki masa depan. Mereka tak memiliki sanak-saudara. Maka sudah saatnya kita menyapa mereka, memeluk mereka dengan penuh ketulusan meski kita tak sanggup meraih tangannya, dan memberikan kedamaian dengan ikatan iman. Kalau kerabat yang mengikat mereka dengan hubungan darah sudah tiada, maka kitalah saudara mereka karena iman yang sama. Sebab, setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Lalu apakah yang sudah engkau lakukan untuk mereka?
Semoga ada yang dapat kita lakukan untuk mendatangkan ridha Allah Ta’ala. Bukan murka-Nya.
Semoga kita dapat merenungkan hal-hal yang demikian. Semoga pula Allah datangkan kebaikan bagi saudara-saudara kita di Nangroe Aceh Darussalam, sesudah datangnya musibah dan kesedihan.
Selengkapnya...

Selasa, 30 Desember 2008

Ada Tanda Di Wajah Kita

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat utama Nabi saw. yang sekaligus menantu beliau, pernah berkata, “Tidak seorang pun bisa menyembunyikan suatu rahasia karena Allah akan menampakkan semua itu melalui roman muka dan ucapannya.”
Tak seorang pun dari kita yang dapat menyembunyikan rahasia dari wajah dan diri kita, kecuali pada ungkapan-ungkapan yang diatur dan kalimat-kalimat yang tersusun rapi. Tetapi secara keseluruhan, kita tak sanggup menyembunyikan rahasia. Susunan kata yang indah dan kalimat yang mempesona, tak sanggup menyimpan rahasia. Hanya saja, kepekaan kita bertingkat-tingkat dalam menangkap dan memahami. Semakin bersih hati kita dalam membangkitkan kewaspadaan diri, maka akan semakin peka. Orang-orang yang banyak bersujud dengan hati ikhlas, akan lebih cepat membedakan siapa yang tulus dan siapa yang ingkar. Sebab ruh itu seperti pasukan. Ia akan cepat mengenali yang serupa dengannya.
Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an, kata Ibnu Taymiyyah Al-Harrani dalam Al-Jamal: Fadhluh, Haqiiqatuh, Aqsaamuh, bahwa hal itu (rahasia) kadangkala nampak pada wajah: “Dan, seandainya Kami kehendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka dengan tanda-tandanya.” karena semua itu ada di bawah kehendak (masyi’ah)-Nya. Kemudian Dia berfirman, “Dan, niscaya kamu akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (QS. Muhammad, 47: 30). Semua ini merupakan kepastian. Sesuatu yang disembunyikan oleh jiwa akan lebih jelas melalui kata-katanya daripada jiwanya. Kesaksian wajah sangatlah tipis, sedangkan dari ucapannya sangatlah jelas.
Orang-orang yang menyembunyikan dalam dirinya kedustaan yang bercampur ketakutan akan tersingkapnya rahasia misalnya, akan tercekat tenggorokannya sehingga sulit menelan. Ini membuatnya merasa tidak nyaman, sehingga justru berusaha untuk terus-menerus menelan. Semakin besar kecemasannya, semakin tercekat tenggorokannya. Semakin ia berusaha untuk menyembunyikan rahasia, menutup rapat-rapat keburukannya, seraya menahan rasa takut akan terbongkarnya keburukan, semakin tak sanggup untuk menelan. Dan ini menyebabkan ia semakin merasa tidak nyaman.
Kening kita juga memberi tanda. Kalau ada kebohongan besar yang kita ucapkan, di kening kita membentuk kerutan yang tidak bisa kita kendalikan. Kerutan itu muncul di bawah kehendak (masyi’ah)-Nya. Tak ada yang sanggup mengelak. Bahkan seorang Bill Clinton sekalipun, tersingkap dustanya ketika ia mencoba mengingkari perbuatan maksiat yang pernah ia lakukan. Penelitian tentang wajah manusia dan seribu rahasia yang ada di dalamnya, memberi kita pelajaran yang besar bahwa ada tanda di wajah kita.
Ada kekuatan dalam diri kita yang membuat wajah tampak bercahaya, meski kulitnya hitam legam. Begitu pun sebaliknya, wajah yang cantik dengan kulit putih bersih bisa kehilangan pesonanya sama sekali karena keruhnya jiwa, rusuhnya hati dan buruknya iktikad. Tak ada yang dapat diharap dari senyum yang tersungging apabila tak disertai oleh jiwa yang hidup, kecuali jika kita sendiri telah demikian keruh.
Pada awalnya, kita bisa memoles senyuman agar tampak lebih mengesankan. Tetapi seiring perjalanan waktu, akan datang tanda di wajah kita apakah pada senyum-senyum kita ada ketulusan atau tidak. Anda akan tahu bahagia tidaknya seseorang di hari tua dari wajah mereka. Atau kalau Anda tidak tahu, wajah itu yang akan mengabarkannya kepada Anda.
Wallahu a’lam bishawab. Hanya Allah saja yang menggenggam semua rahasia. Pengetahuan kita amat terbatas. Selebihnya ada pelajaran yang patut kita renungkan. Jika di dunia ini saja kita sanggup menyimpan rahasia, maka apakah yang sanggup kita andalkan kelak ketika bumi telah dilipat dan langit telah digulung?
Semoga Allah menolong kita semua dari kesesatan kita sendiri.
Selengkapnya...